Hello...
Just share about my first roman. But exactly this’s
unrefined roman because I’m not real writer. I wrote that roman when I sat in
10th grade school.
Let’s read. In Indonesian..
The title is Yucca Kathwright Gatson.
hehehe
Ku tapaki jalan terjal penuh batu.
Menyisakan lebam biru di telapak kakiku. Sepasang highheels ku tenteng
beriringan langkahku. Sedikit sulit, kakiku terjerembab di sela dua batu.
Goresan luka menghiasi telapak tanganku yang menahan robohnya tubuhku sejak
tadi. Tanganku yang lain terasa lebih baik. Sama sekali tak terasa perih.
Hangat dan melayang jatuh empuk. Ku dekatkan tanganku, dan ku cium bau busuk.
Sekujur telapak tangan kiriku tertempel di kotoran anjing. Aku mulai sulit
untuk berdiri, sekumpulan anak kecil melihatku lalu menertawakanku. Ewwhhh...
liburan kali ini kenapa aku yang harus dikirimkan ke pelosok kampung bahkan
tidak pernah disebutkan di dalam peta mana saja. Sudah aku tolak mentah-mentah.
Namun hasutan ibuku mampu meluluhkan keteguhanku. Aku pikir lebih baik aku
pergi jauh dari kotaku itu, daripada harus menjadi patung penuh tangisan karena
siksa batin kecemburuanku. Ahh Jimmy, untuk apa aku mengenalmu kalau harus
berakhir seperti ini. Ku tilik akhir cerita dongeng di setiap malam sebelum ku
terlelap. Selalu berakhir bahagia. Apalagi jika ibuku yang seringkali
membacakannya untukku ketika beliau masih ada. Sekarang, aku hanya tidur
ditemani bulan yang kesepian sembari mengacuhkan alunan nada ibu tiriku. Tugas
hukumanku yang tertumpuk akibat ulahku membawa ku melayang sampai aku terjatuh
di taman aneh ini. Setidaknya jangan disebut taman. Seseorang mengirimkan pesan
untukku agar aku menemuinya disini. Seonggok tubuh menghampiriku, sama sekali
tidak mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
“hai,
kamu datang juga. Aku pikir ibu dan profesormu tidak bisa memaksamu sampai ke
tempat ini. Kenapa kamu kesini memakai sepatu duri seperti itu. Ewwhh ternyata
anak kota seperti kamu suka juga berlama-lama pegang kotoran Jeam ” Ocehnya
menertawakanku.
Jeam? Siapa lagi Jeam. Aku menatapnya
aneh. Laki-laki dengan seekor anjing yang.. omegod Jeam. Aku seketika
terperanjat berdiri. Menatapnya tajam, membuang highheels yang dia bilang sepatu duri ke kakinya.
“ahhhhh...
Kau, aw” rintihnya. Mungkin sedikit sakit. Ah itu imbalan baginya yang sudah
membiarkan anjingnya buang kotoran di sembarang tempat. Ku julurkan lidahku dan
berlari, setidaknya aku bisa melarikan diri daripada menghadapinya.
Aku harus segera membersihkan tubuhku.
Aku tunggu orang yang memang harus aku temui. Dan lagi-lagi lelaki yang membawa
anjing tadi menghampiriku untuk kedua kalinya. Ah jangan sampai dia ingin
membalas dendam, atau jangan-jangan dia akan menculikku, aku di bawa ke tempat
sepi, bau, di jatuhkan dan sesuatu terjadi padaku. Aku.. ahh jangan.
“JANGANN....
brukk.” Kakiku melayang sampai di sela kedua kakinya. Mendarat mulus di
kikknya. Hahaha. Setelah merasa puas aku berlari lagi. Namun belum sempat aku
berlari, laki-laki itu sengaja menjulurkan kakinya yang membuatku tersandung.
Bruuukkkk. Aku terjatuh, rasanya perih. Aku merintih. Mungkin laki-laki itu
sedikit iba terhadapku. Dia mengulurkan tangan ingin menolongku. Ku sempatkan
tersenyum dalam hati dan bruuuukkkk. Hahaha dia jatuh dengan mukanya yang
mencium telapak tanganku yang penuh dengan kotoran anjing. Aku tersenyum puas.
Sedikit aku beri bonus, ku depakkan lutut kesayanganku di sela kakinya. Tepat
di tengah dan ahhh baginya mungkin sakit. Ini hal unik yang biasa aku lakukan
di tempat manapun ketika ada pria kurang ajar. Tapi, ini agaknya berbeda. Dia
segera lebih merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Telapak tanganku di genggamnya
tanpa rasa jijik sama sekali. Ya, aku sama sekali tidak terkejut. Mungkin saja
dia terbiasa dengan kotoran anjing. Dia mendekatkan hidungnya ke hidungku.
Sesaat aku melihatnya menjadi dua. Aku bingung. Dan ku rasakan basahan lembut
mewarnai bibir mungilku. Dia memainkan lidahnya sesekali masuk kedalam mulutku,
dan kembali menikmati irama kecupan. Aku terperanjat. Sebuah tamparan sebagai
hadiah untuknya.
“Hey,
bukankah kamu yang bernama Yucca? Cepat ikut aku.” Suruhnya tanpa melihatku.
Tidak sopan. Aku merah padam. Beraninya dia memperlakukanku seperti itu. Aku
bukan gadis murahan yang tak laku, dan di jual di pojok etalase toko yang siap
di jajakan. Aku diam.
“cepat.
Kamu sedang di hukum kan” teriaknya meninggalkanku. Kenapa dia bisa tau.
“siapa
kamu, dan beraninya kau...”
“ahh,
ya maaf. Aku . aku tidak bermaksud seperti itu. Jangan Ge’er. Aku sama sekali
tidak menyukai mu. Maaf atas tindakan ku tadi.
“hahahahaaaahaaa”
tawaku spontan.
“kamu
tertawa? Hey aku sedang minta maaf. Hargai donk.”
“kamu
yang harusnya hargai aku.”
“berapa?”
tanyanya.
“plakkkk...”
ku terbangkan tanganku mendarat ke pipinya.
Aku biarkan mataku beristirahat sebentar.
Sekumpulan ikan berkerumunan di pojok permukaan air rawa menangkap benih-benih
makanan mereka yang orang tua itu lemparkan. Dia yang menyelamatkanku dari
laki-laki tadi.
“siapa?”
“aku
pemimpin dapur asrama Vilannde”
“bukan.”
“kamu
anak dari keluarga Boston kan. Kau akan melihatku setiap hari nak.” Tuturnya tak
memberiku kesempatan berbicara.
“maksudku
dia, siapa dia.”
“laki-laki
brengsek tadi. Dia anak dari asrama Gummexi. Asrama yang berbeda jauh dari
asrama kita. Asrama Gummexi khusus anak laki-laki sedangkan asrama Villande
hanya untuk anak perempuan. Kebanyakan dari mereka hanya anak-anak yang tidak
wajar. Kami di sini hanya bisa mendidik dengan baik. Makanya banyak orang
bilang ini seperti asrama buangan. Selain karena para siswanya, asrama ini juga
terpelosok. Kamu pasti mengerti apa yang aku bicarakan. Kamu akan bertemu
seseorang nanti bila kamu sudah tiba di asrama.” Ujarnya panjang lebar. Sambil
mendayung sampan. Bibirku tersenyum tenang, diam karena aku sungguh tidak
mengerti. Hanya menghargai apa yang dia katakan.
“ayah.
Ayah.....”
“Ini
sekolah barumu. Selamat bersenang-senang. Aku harus ke Belgia. Aku tidak bisa
menemanimu lama-lama. Kamu akan di temani Bea”
“maksud
ayah? Aku tidak mengerti”
“cepatlah
masuk. Tn.Boston.” perintah salah satu orang yang berada di belakangku.
Aku menurut. Aku mengikuti
seseorang yang tadi memerintahku masuk ke asrama. Dinding asrama masih terlihat
retro. Di sela-sela bangunan yang penuh batu bata terhimpit lumut-lumut yang
menempel menambah relief di setiap dinding lorong asrama. Orang tadi berhenti
di salah satu sudut lorong. Sebenarnya kami telah melewati beberapa lorong. Di
setiap lorong yang kami lewati, banyak sosok mata yang menatapku. Aku heran.
Tampang mereka sangatlah berlawanan dengan apa yang aku bayangkan. Sebenarnya
baru saja aku bayangkan. Gadis-gadis. Ya, tentu karena ini sekolah perempuan.
Tapi gadis-gadis disini berbeda agaknya jauh dari situasi tempat yang mereka
diami sekarang. Aku melihat tiga sosok gadis berwarna-warni.
And blaa....blaaa...blaaa. I did not have time to write the
next story for my roman. Ironic K
yeah.
For share or comment. I’ll wait for ya.