Monday, May 6, 2013

#Big Bunny #Unrefined Roman Again -____-


Ku tapaki jalan terjal penuh batu. Menyisakan lebam biru di telapak kakiku. Sepasang highheels ku tenteng beriringan langkahku. Sedikit sulit, kakiku terjerembab di sela dua batu. Goresan luka menghiasi telapak tanganku yang menahan robohnya tubuhku sejak tadi. Tanganku yang lain terasa lebih baik. Sama sekali tak terasa perih. Hangat dan melayang jatuh empuk. Ku dekatkan tanganku, dan ku cium bau busuk. Sekujur telapak tangan kiriku tertempel di kotoran anjing. Aku mulai sulit untuk berdiri, sekumpulan anak kecil melihatku lalu menertawakanku. Ewwhhh... liburan kali ini kenapa aku yang harus dikirimkan ke pelosok kampung bahkan tidak pernah disebutkan di dalam peta mana saja. Sudah aku tolak mentah-mentah. Namun hasutan ibuku mampu meluluhkan keteguhanku. Aku pikir lebih baik aku pergi jauh dari kotaku itu, daripada harus menjadi patung penuh tangisan karena siksa batin kecemburuanku. Ahh Jimmy, untuk apa aku mengenalmu kalau harus berakhir seperti ini. Ku tilik akhir cerita dongeng di setiap malam sebelum ku terlelap. Selalu berakhir bahagia. Apalagi jika ibuku yang seringkali membacakannya untukku ketika beliau masih ada. Sekarang, aku hanya tidur ditemani bulan yang kesepian sembari mengacuhkan alunan nada ibu tiriku. Tugas hukumanku yang tertumpuk akibat ulahku membawa ku melayang sampai aku terjatuh di taman aneh ini. Setidaknya jangan disebut taman. Seseorang mengirimkan pesan untukku agar aku menemuinya disini. Seonggok tubuh menghampiriku, sama sekali tidak mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
                “hai, kamu datang juga. Aku pikir ibu dan profesormu tidak bisa memaksamu sampai ke tempat ini. Kenapa kamu kesini memakai sepatu duri seperti itu. Ewwhh ternyata anak kota seperti kamu suka juga berlama-lama pegang kotoran Jeam ” Ocehnya menertawakanku.
Jeam? Siapa lagi Jeam. Aku menatapnya aneh. Laki-laki dengan seekor anjing yang.. omegod Jeam. Aku seketika terperanjat berdiri. Menatapnya tajam, membuang highheels  yang dia bilang sepatu duri ke kakinya.
                “ahhhhh... Kau, aw” rintihnya. Mungkin sedikit sakit. Ah itu imbalan baginya yang sudah membiarkan anjingnya buang kotoran di sembarang tempat. Ku julurkan lidahku dan berlari, setidaknya aku bisa melarikan diri daripada menghadapinya.
Aku harus segera membersihkan tubuhku. Aku tunggu orang yang memang harus aku temui. Dan lagi-lagi lelaki yang membawa anjing tadi menghampiriku untuk kedua kalinya. Ah jangan sampai dia ingin membalas dendam, atau jangan-jangan dia akan menculikku, aku di bawa ke tempat sepi, bau, di jatuhkan dan sesuatu terjadi padaku. Aku.. ahh jangan.
                “JANGANN.... brukk.” Kakiku melayang sampai di sela kedua kakinya. Mendarat mulus di kikknya. Hahaha. Setelah merasa puas aku berlari lagi. Namun belum sempat aku berlari, laki-laki itu sengaja menjulurkan kakinya yang membuatku tersandung. Bruuukkkk. Aku terjatuh, rasanya perih. Aku merintih. Mungkin laki-laki itu sedikit iba terhadapku. Dia mengulurkan tangan ingin menolongku. Ku sempatkan tersenyum dalam hati dan bruuuukkkk. Hahaha dia jatuh dengan mukanya yang mencium telapak tanganku yang penuh dengan kotoran anjing. Aku tersenyum puas. Sedikit aku beri bonus, ku depakkan lutut kesayanganku di sela kakinya. Tepat di tengah dan ahhh baginya mungkin sakit. Ini hal unik yang biasa aku lakukan di tempat manapun ketika ada pria kurang ajar. Tapi, ini agaknya berbeda. Dia segera lebih merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Telapak tanganku di genggamnya tanpa rasa jijik sama sekali. Ya, aku sama sekali tidak terkejut. Mungkin saja dia terbiasa dengan kotoran anjing. Dia mendekatkan hidungnya ke hidungku. Sesaat aku melihatnya menjadi dua. Aku bingung. Dan ku rasakan basahan lembut mewarnai bibir mungilku. Dia memainkan lidahnya sesekali masuk kedalam mulutku, dan kembali menikmati irama kecupan. Aku terperanjat. Sebuah tamparan sebagai hadiah untuknya.
                “Hey, bukankah kamu yang bernama Yucca? Cepat ikut aku.” Suruhnya tanpa melihatku. Tidak sopan. Aku merah padam. Beraninya dia memperlakukanku seperti itu. Aku bukan gadis murahan yang tak laku, dan di jual di pojok etalase toko yang siap di jajakan. Aku diam.
                “cepat. Kamu sedang di hukum kan” teriaknya meninggalkanku. Kenapa dia bisa tau.
                “siapa kamu, dan beraninya kau...”
                “ahh, ya maaf. Aku . aku tidak bermaksud seperti itu. Jangan Ge’er. Aku sama sekali tidak menyukai mu. Maaf atas tindakan ku tadi.
                “hahahahaaaahaaa” tawaku spontan.
                “kamu tertawa? Hey aku sedang minta maaf. Hargai donk.”
                “kamu yang harusnya hargai aku.”
                “berapa?” tanyanya.
                “plakkkk...” ku terbangkan tanganku mendarat ke pipinya.
Aku biarkan mataku beristirahat sebentar. Sekumpulan ikan berkerumunan di pojok permukaan air rawa menangkap benih-benih makanan mereka yang orang tua itu lemparkan. Dia yang menyelamatkanku dari laki-laki tadi.
                “siapa?”
                “aku pemimpin dapur asrama Vilannde”
                “bukan.”
                “kamu anak dari keluarga Boston kan. Kau akan melihatku setiap hari nak.” Tuturnya tak memberiku kesempatan berbicara.
                “maksudku dia, siapa dia.”
                “laki-laki brengsek tadi. Dia anak dari asrama Gummexi. Asrama yang berbeda jauh dari asrama kita. Asrama Gummexi khusus anak laki-laki sedangkan asrama Villande hanya untuk anak perempuan. Kebanyakan dari mereka hanya anak-anak yang tidak wajar. Kami di sini hanya bisa mendidik dengan baik. Makanya banyak orang bilang ini seperti asrama buangan. Selain karena para siswanya, asrama ini juga terpelosok. Kamu pasti mengerti apa yang aku bicarakan. Kamu akan bertemu seseorang nanti bila kamu sudah tiba di asrama.” Ujarnya panjang lebar. Sambil mendayung sampan. Bibirku tersenyum tenang, diam karena aku sungguh tidak mengerti. Hanya menghargai apa yang dia katakan.
                “ayah. Ayah.....”
                “Ini sekolah barumu. Selamat bersenang-senang. Aku harus ke Belgia. Aku tidak bisa menemanimu lama-lama. Kamu akan di temani Bea”
                “maksud ayah? Aku tidak mengerti”
                “cepatlah masuk. Tn.Boston.” perintah salah satu orang yang berada di belakangku.
Aku menurut. Aku mengikuti seseorang yang tadi memerintahku masuk ke asrama. Dinding asrama masih terlihat retro. Di sela-sela bangunan yang penuh batu bata terhimpit lumut-lumut yang menempel menambah relief di setiap dinding lorong asrama. Orang tadi berhenti di salah satu sudut lorong. Sebenarnya kami telah melewati beberapa lorong. Di setiap lorong yang kami lewati, banyak sosok mata yang menatapku. Aku heran. Tampang mereka sangatlah berlawanan dengan apa yang aku bayangkan. Sebenarnya baru saja aku bayangkan. Gadis-gadis. Ya, tentu karena ini sekolah perempuan. Tapi gadis-gadis disini berbeda agaknya jauh dari situasi tempat yang mereka diami sekarang. Aku melihat tiga sosok gadis berwarna-warni.

yuuhu bssssss :D waiting for the next words :)

No comments:

Post a Comment